Pengantar
Untuk menumbuhkan minat sastra (baca: puisi) di kalangan siswa tingkat SLTA, Kampung Seni THR Surabaya menggelar lomba baca puisi. Lomba juga dimaksudkan mewadahi bakat dan kreativitas seni siswa.
Sejak tahun 1970-an hingga tahun 1990-an, prestasi Jawa Timur dalam hal lomba baca puisi tingkat nasional sudah sangat diakui. Tersebutlah nama-nama seperti Anang Hanani, Ratu Fajar (alm), Bambang Sujiono (alm), dan sebagainya.
Bentuk Acara
Lomba Baca Puisi tingkat SLTA
Teknis Pelaksanaan
Lomba baca puisi diikuti oleh 50 siswa SLTA se-Gerbangkertasusila
Tempat dan Waktu Pelaksanaan
Kedua kegiatan digelar di Gedung Ludruk Kampung Seni THR Surabaya (Belakang Hi-Tech Mall) Jl Kusuma Bangsa 116-118 Surabaya, tanggal 24 April 2010.
Lomba baca puisi pukul 09.00 – 13.00 WIB
Contak Person:
Tri Broto Wibisono (031-70814762 & 08121631960)
Ribut Wijoto (031-70184612 & 085746482883)
Didik Wahyudi (031-77570816)
LOMBA BACA PUISI PEMUDA
Kampung Seni THR Surabaya
Ketentuan Lomba
1. Jumlah peserta dibatasi hanya 50 siswa
2. Peserta merupakan siswa/i SMA negeri maupun swasta yang ada di wilayah Gerbang Kertasusila
3. Setiap sekolah hanya bisa mengirimkan 2 orang peserta
4. Pendaftaraan gratis alias tidak dipungut biaya
5. Peserta wajib melakukan daftar ulang sebelum kompetisi dilaksanakan.
6. Pada waktu pelaksanaan peserta wajib menggunakan nomor peserta yang telah dibagikan/disediakan panitia.
7. Urutan perlombaan berdasarkan pembagian panitia.
8. Pengambilan nomor dilakukan saat daftar ulang
9. Peserta harus berada di ruangan 15 menit sebelum perlombaan dimulai
10. Apabila peserta tidak hadir setelah tiga kali pemanggilan maka peserta dianggap mengundurkan diri dan diberi waktu selama 3 menit
11. Perlombaan hanya terdiri atas satu tahap
Aspek Penilaian
1. Kedalaman dalam menggambarkan tema, suasana, imajinasi, emosi
2. Kejelasan olah vokal
3. Penguasaan ruang
Hadiah
1. Juara I Trophy
2. Juara II Trophy
3. Juara III Trophy
4. Sebanyak 10 Pembaca Favorit mendapatkan Trophy
Tahapan Lomba
1. Pendaftaran
Pendaftaran dibuka mulai tanggal 10 April hingga 22 April 2010
Di Sekretariat Kampung Seni THR Surabaya (Belakang Hi-Tech Mall)
Jl Kusuma Bangsa 116-118 Surabaya
Pukul 10.00 hingga 14.00 WIB
2. Technical Meeting
Tanggal 22 April 2010
Di Sekretariat Kampung Seni THR Surabaya (Belakang Hi-Tech Mall)
Jl Kusuma Bangsa 116-118 Surabaya
Pukul 10.00 hingga 12.00 WIB
3. Pelaksanaan
Lomba digelar 24 April 2010
Di Gedung Ludruk Kampung Seni THR Surabaya (Belakang Hi-Tech Mall)
Jl Kusuma Bangsa 116-118 Surabaya
Pukul 09.00 hingga 13.00 WIB
Minggu, 18 April 2010
Selasa, 13 April 2010
PUISI-PUISI YANG DILOMBAKAN
Puisi HU. Mardiluhung
Pulau Garam
hanna fransisca
Adik, ternyata ada babon naga di pulau garam itu. Dan dua lilin mungilmu aku letakkan di kaki ibu suci. Lalu aku menggandengmu. Melewati pantai, panggung gamang dan sebuah hikayat. Yang pernah digunakan orang-orang kuning-sipit menukar kain, kertas dan juga kata ganti dan sambung yang selalu menggelitiki kerongkongan. Seperti menggelitiki sebuahrelung-relung. Sebuah tempat, di mana babon naga hilir-mudik. Sambil menyembur-nyemburkan apinya. Membuat segalanya meleleh. Terus hanyut ke pusat-jantung pulau garam.
Adik, lihatlah ibu suci tersenyum. Dua lilin mungilmu dipandangnya. Dan nyalanya pun tampak menjelma biru. Biru yang tak surup. Biru yang demikian seperti sebentang kain yang terentang. Dan merentangi diri kita yang terus bergandengan ini. Akh, tanganmu yang hangat-lekat aku genggam. Dan pundakmu yang lembut-lengket aku rendeng. Sedangkan di sebelah panggung gamang, mengapa orang-orang kuning-sipit itu Cuma tercekat. Apa seluruh yang telah ditukarnya telah habis? Atau tak ada lagi hikayat yang dapat digunakannya?
Adik, kita memang bergandengan dan terus bergandengan. Dan mulut kita terdiam. Tapi, lewat senyuman ibu suci yang terus mengintai (siapa saja pasti tahu), jika ada pantai, panggung gamang dan sebuah hikayat yang pernah digunakan orang-orang kuning-sipit yang lain untuk kita. Dan atas ini semua, seluruh arah yang akan kita lalui akan menyisakan Padma. Padma berbinar. Padma dengan kelopak runcing kecil dan melingkar. Seperti lingkaran batas di mana pulau garam akan tertinggal jauh di belakang.
Sedang babon naga yang menyembur-nyemburkan apinya Cuma menjadi kenangan. Bersama dua lilin mungilmu yang aku letakkan di kaki ibu suci tadi.
(Gresik, 2010)
Puisi Tengsoe Tjahjono
Bila Aku Membangunkanmu
Bila aku membangunkanmu, putriku
Bukan sebab aku mau memenggal aku punya mimpi
Hanya matahari di luar jendela tlah memuntahkan
Cahya kerja, hari mesti segera kau lewati
Mimpi memang indah
Tapi kenyataan jauh lebih indah
Saat kau bergetar menggoreskan pena di kertas
Bergaris, masa depanmu tergambar di situ
Saat kau terbang berayun dari dahan ke dahan,
Masa depanmu menari-nari pula di situ
Bila aku membangunkanmu, putriku
Tak perlu kau mengelur
Ini panggilan cinta, jawablah dengan cinta
Julurkan kakimu ke lantai dengan syukur
Lalu melangkahlah
Rapikan tempat tidur, lantas mandilah
Sarapan, lalu bermula dari situ: saat kau bangun,
Berdoa, merapikan tempat tidur
Senyum yang mengiringi kaki mungilmu
Bila aku membangunkanmu, putriku
Tidakkah kau mengerti ibumu.
(Surabaya, 1997)
Puisi A. Muttaqin
Keroncong Kosong
Wati, inilah peti mati yang kubawa
dari mimpi ke kota. Di dalamnya, aku
menyimpan kemarau, hujan, dan sebentuk
musim gugur dari malam yang prematur
bukalah, Wati,
bukalah...
(oh, langit yang berdarah, restuilah matanya
Agar demam malap tak membuatnya buta).
Darah yang mengering biarlah garing. Luka
yang busuk jangan dikutuk. Lihatlah, cinta
telah jadi mumi, dan rindu benar mati
bersama rerempah dan karbon monoksida.
Disini,
wajah kopta seperti lelaki yang gelisah. Orang- orang
lalang dari kosong ke lolong, dari kolong ke sebuah keroncong:
ayat-ayat sampah, kaleng-kaleng soda,
ah, masih adakah jembatan layang dari mimpi ke plasa?
Waktu berlalu seperti pisau dan menebas
jantungku, gang-gang ngmabang dan meriang,
sementara langkahku hilang di jalan ambang.
Mungkin aku telah jadi hantu bersama gedung-
gedung yang kian jangkung, kian suwung.
Di pelataran tidurku, sepasang kamboja tumbuh,
Setinggi punuk lembu, setinggi merih cintaku,
Padamu.
(2006)
:D. Zawawi Imron
di balik tanah kapur, bumimu
kutemukan ratap-kubur, gelap-debur, pusar asal
juga sisa garam yang asin dan terasa kekal
di tebing pantaimu
serupa kisah-kisah karang, puisi-puisi terjal
juga aksara yang berdebur laksana selaksa gelombang
melebur lebar ---dileburkan angin, dilebarkan akal
lalu kuingat desing angin yang pernah kau lentingkan
dalam percakapan malam, ketika
kita reguk kegelapan
demi terang dan pencerahan
desing itu terus memburuku
: “lebih baik berputih tulang
daripada berputih pandang”
peluru-bayu itu terus memburuku
aku pun berlari ke jejak yang terperca
berkaca, bahkan menyeberangi kekota ingat
menambat hasrat ke celah antara ---serupa selat Madura
membalik dusta di mata
menyulap bencana menjadi kencana
lalu mengerling pada desing anginmu yang lain
desing yang menghias dedinding nafas
: “bila buruk muka, kenapa cermin yang dibelah…”
aku ‘rus berlari dan melupa...
serasa berabad-abad, aku melepas dan menahan nafas
meski serapah menggenang di darah
menggulung waktu
memanggil-manggil kenangan merah
untuk berdiwana di aorta, tapi…
kini aku termangu di kapal penyeberangan
mencoba menyeberangi dua luka yang saling berjauhan
antara maut dan kemaluan
antara nyali dan kehormatan
antara kawan dan lawan
antara...
ah,
di balik tanah kapur, bumimu
kutemukan alir air, juga anyir, muasal akal
juga sisa garam yang asin dan terasa kekal...
sekekal perih ketika garam diparamkan ke luka
lukaku, mungkin lukamu jua
yang disayat dengan pisau berkarat
dalam kesabaran abad
Surabaya-Sumenep, 2009
terkenang Mbah Surip dan Rendra
bangun tidur, tidur lagi
bangun lagi, tidur lagi
banguuuuun...tidur lagi*
ini kamar tidur penuh baju tidur, buku-buku tidur, jam tidur, tubuh-tubuh tidur, pikiran-pikiran tidur, ini kamar penuh koran dan majalah tidur, radio dan tv menyiarkan orang tidur dengan bahasa tidur, bahasa dari pemerintah yang tidur, menumpuk di kamar tidur, kamar tidur kami, kamar kami yang ditidurkan, kami yang ditidurkan dalam kamar, kamar yang membuat kami selalu tidur, kamar yang dibuat manusia yang tidur, kami yang ditidurkan oleh manusia yang tidur
bangun tidur, tidur lagi
bangun lagi, tidur lagi
banguuuuun...tidur lagi*
di sini semua jadi diam, bahkan ketika banyak darah dan air mata menggenang, baju-baju, sepatu, penanggalan dan detak jam, semua diam, bahkan ketika banyak darah dan air mata menggenang, buku-buku hanya disesaki kata tanpa nyawa, bahasa tinggal gincu dan pewarna, tubuh-tubuh terdampar, hanya diam, bahkan ketika banyak darah dan air mata menggenang, tak ada kedatangan, tak ada kepergian, tak ada perubahan, ini kamar diam, kamar yang tertidur pulas, kamar yang menyimpan ingatan, kenangan, harapan, cinta dan sejarah yang dininabobokkan
bangun tidur, tidur lagi
bangun lagi, tidur lagi
banguuuuun...tidur lagi*
kamar ini tidur menjangkiti seluruh rumah, rumah jadi tidur merantak ke seluruh kampung, kampung jadi tidur menular ke seluruh kota, kota jadi tidur menggerogoti negara, negara jadi tidur menimang-nimang kami, kami jadi tidur, tidur jadi kami
*syair lagu Mbah Surip, Bangun Tidur
Puisi Indra Tjahyadi
SEPERTI KEMATIANKU
Seperti kematianku, derita yang lebih ledak ketimbang peluru
memicu mendung. Tombak takdir keperihan yang setajam
nujum mendentumkan lindu. Memang pernah ada burung bagi nafasku,
tapi harum rambutmu adalah dingin yang menumpahkan airmataku.
Bila segala keterasingan menjelma laut, aku hanyut dengan remuk ujud
sampai ke ujung hulu nyeri yang tak terkatakan taifun, seperti bayang-bayang
yang lamat-lamat memudar dirajam sunyi, dipalu rindu.
Biarkan aku mencintaimu meski semak-semak liar kian meneguhkan
kesedihanku, kian meneguhkan kesendirianku.
Terbuka. Terbukalah selalu segala luka segala hampa bagi mimpi dan sepiku,
meski di keremangan jalan menyudut para lelaki dan pelacur tengah sibuk
bercinta, meletuskan pistol dendam hantu-hantu dalam kalbuku.
O kekasih berkulit gelap dari dataran yang jauh, dengarkah olehmu
degup jantung yang senantiasa sengsara tiap kali bibirmu manis
sunggingkan senyum dan nafasmu bening sirapkan harum.
Dalam penderitaan bumi yang angkuh, aku tenggelam. Kian tenggelam!
Seperti denting gitar melayang di tengah malam. Seperti kematianku.
2007.
Puisi S Yoga
LUDRUK
ia rias wajahnya agar lebih cantik
ia menjadi sang putri malam ini
bukan sebagai lelaki yang biasa ia lakoni
yang datang dari rasa birahi
di panggung penonton masih sepi
ia ingat bedak terakhir yang tersimpan di laci
agar wajahnya tambah putih bunga leli
menyempurnakan penyamaran hari ini
atas riwayat hidup yang ingin dilupakan
dulu ia pernah menjadi tokoh yang gagal
kini ingin berganti peran dan nasib
agar semua rahasia bisa tersingkap
agar kenangan masa lalu bisa terkubur
dan bayangan sunyi sehabis subuh bisa berganti
ia mondar-mandir di tengah panggung
seperti hendak menanti eksekusi
ia berkidung agar semangat tidak luntur
sementara penabuh gamelan masih tertidur
tukang parkir sudah seminggu libur
ia ke tengah tobong menghitung kursi kosong
ia memandang panggung dan menyaksikan
permainan yang sesungguhnya sedang dimulai
ia lihat bayang-bayang dirinya di jendela kamar
bergincu tebal sambil melambaikan tangan
tanjung perak mas
kapale kobong
monggo mampir mas
kamare kosong
Surabaya, 2008
para raja turun tahta
menyeberangi sabana
meninggalkan istana mencari mahagua
babat alas. menyibak
mimosa + alang-alang
agar sampai di pusat hening. jagat alit
seperti maharaja rahwana: menyusuri
celah payudara + selangkangan
lantas berkelajat dalam kawah vagina
berbusa. berbusa-busa ia bersabda:
"tak ada kekuasaan + kekayaan
yang bisa membeli sensasi tranced orgasme"
yang mahaputih merasuki uterus. mencari
Allah dalam gema mantra mula-jadi
- lalu surut dalam sedu-sedan ibadah zinah
rabi, kawini aku - kawini aku...
2009
Pulau Garam
hanna fransisca
Adik, ternyata ada babon naga di pulau garam itu. Dan dua lilin mungilmu aku letakkan di kaki ibu suci. Lalu aku menggandengmu. Melewati pantai, panggung gamang dan sebuah hikayat. Yang pernah digunakan orang-orang kuning-sipit menukar kain, kertas dan juga kata ganti dan sambung yang selalu menggelitiki kerongkongan. Seperti menggelitiki sebuahrelung-relung. Sebuah tempat, di mana babon naga hilir-mudik. Sambil menyembur-nyemburkan apinya. Membuat segalanya meleleh. Terus hanyut ke pusat-jantung pulau garam.
Adik, lihatlah ibu suci tersenyum. Dua lilin mungilmu dipandangnya. Dan nyalanya pun tampak menjelma biru. Biru yang tak surup. Biru yang demikian seperti sebentang kain yang terentang. Dan merentangi diri kita yang terus bergandengan ini. Akh, tanganmu yang hangat-lekat aku genggam. Dan pundakmu yang lembut-lengket aku rendeng. Sedangkan di sebelah panggung gamang, mengapa orang-orang kuning-sipit itu Cuma tercekat. Apa seluruh yang telah ditukarnya telah habis? Atau tak ada lagi hikayat yang dapat digunakannya?
Adik, kita memang bergandengan dan terus bergandengan. Dan mulut kita terdiam. Tapi, lewat senyuman ibu suci yang terus mengintai (siapa saja pasti tahu), jika ada pantai, panggung gamang dan sebuah hikayat yang pernah digunakan orang-orang kuning-sipit yang lain untuk kita. Dan atas ini semua, seluruh arah yang akan kita lalui akan menyisakan Padma. Padma berbinar. Padma dengan kelopak runcing kecil dan melingkar. Seperti lingkaran batas di mana pulau garam akan tertinggal jauh di belakang.
Sedang babon naga yang menyembur-nyemburkan apinya Cuma menjadi kenangan. Bersama dua lilin mungilmu yang aku letakkan di kaki ibu suci tadi.
(Gresik, 2010)
Puisi Tengsoe Tjahjono
Bila Aku Membangunkanmu
Bila aku membangunkanmu, putriku
Bukan sebab aku mau memenggal aku punya mimpi
Hanya matahari di luar jendela tlah memuntahkan
Cahya kerja, hari mesti segera kau lewati
Mimpi memang indah
Tapi kenyataan jauh lebih indah
Saat kau bergetar menggoreskan pena di kertas
Bergaris, masa depanmu tergambar di situ
Saat kau terbang berayun dari dahan ke dahan,
Masa depanmu menari-nari pula di situ
Bila aku membangunkanmu, putriku
Tak perlu kau mengelur
Ini panggilan cinta, jawablah dengan cinta
Julurkan kakimu ke lantai dengan syukur
Lalu melangkahlah
Rapikan tempat tidur, lantas mandilah
Sarapan, lalu bermula dari situ: saat kau bangun,
Berdoa, merapikan tempat tidur
Senyum yang mengiringi kaki mungilmu
Bila aku membangunkanmu, putriku
Tidakkah kau mengerti ibumu.
(Surabaya, 1997)
Puisi A. Muttaqin
Keroncong Kosong
Wati, inilah peti mati yang kubawa
dari mimpi ke kota. Di dalamnya, aku
menyimpan kemarau, hujan, dan sebentuk
musim gugur dari malam yang prematur
bukalah, Wati,
bukalah...
(oh, langit yang berdarah, restuilah matanya
Agar demam malap tak membuatnya buta).
Darah yang mengering biarlah garing. Luka
yang busuk jangan dikutuk. Lihatlah, cinta
telah jadi mumi, dan rindu benar mati
bersama rerempah dan karbon monoksida.
Disini,
wajah kopta seperti lelaki yang gelisah. Orang- orang
lalang dari kosong ke lolong, dari kolong ke sebuah keroncong:
ayat-ayat sampah, kaleng-kaleng soda,
ah, masih adakah jembatan layang dari mimpi ke plasa?
Waktu berlalu seperti pisau dan menebas
jantungku, gang-gang ngmabang dan meriang,
sementara langkahku hilang di jalan ambang.
Mungkin aku telah jadi hantu bersama gedung-
gedung yang kian jangkung, kian suwung.
Di pelataran tidurku, sepasang kamboja tumbuh,
Setinggi punuk lembu, setinggi merih cintaku,
Padamu.
(2006)
Puisi Mashuri
:D. Zawawi Imron
di balik tanah kapur, bumimu
kutemukan ratap-kubur, gelap-debur, pusar asal
juga sisa garam yang asin dan terasa kekal
di tebing pantaimu
serupa kisah-kisah karang, puisi-puisi terjal
juga aksara yang berdebur laksana selaksa gelombang
melebur lebar ---dileburkan angin, dilebarkan akal
lalu kuingat desing angin yang pernah kau lentingkan
dalam percakapan malam, ketika
kita reguk kegelapan
demi terang dan pencerahan
desing itu terus memburuku
: “lebih baik berputih tulang
daripada berputih pandang”
peluru-bayu itu terus memburuku
aku pun berlari ke jejak yang terperca
berkaca, bahkan menyeberangi kekota ingat
menambat hasrat ke celah antara ---serupa selat Madura
membalik dusta di mata
menyulap bencana menjadi kencana
lalu mengerling pada desing anginmu yang lain
desing yang menghias dedinding nafas
: “bila buruk muka, kenapa cermin yang dibelah…”
aku ‘rus berlari dan melupa...
serasa berabad-abad, aku melepas dan menahan nafas
meski serapah menggenang di darah
menggulung waktu
memanggil-manggil kenangan merah
untuk berdiwana di aorta, tapi…
kini aku termangu di kapal penyeberangan
mencoba menyeberangi dua luka yang saling berjauhan
antara maut dan kemaluan
antara nyali dan kehormatan
antara kawan dan lawan
antara...
ah,
di balik tanah kapur, bumimu
kutemukan alir air, juga anyir, muasal akal
juga sisa garam yang asin dan terasa kekal...
sekekal perih ketika garam diparamkan ke luka
lukaku, mungkin lukamu jua
yang disayat dengan pisau berkarat
dalam kesabaran abad
Surabaya-Sumenep, 2009
Puisi F Aziz Manna
terkenang Mbah Surip dan Rendra
bangun tidur, tidur lagi
bangun lagi, tidur lagi
banguuuuun...tidur lagi*
ini kamar tidur penuh baju tidur, buku-buku tidur, jam tidur, tubuh-tubuh tidur, pikiran-pikiran tidur, ini kamar penuh koran dan majalah tidur, radio dan tv menyiarkan orang tidur dengan bahasa tidur, bahasa dari pemerintah yang tidur, menumpuk di kamar tidur, kamar tidur kami, kamar kami yang ditidurkan, kami yang ditidurkan dalam kamar, kamar yang membuat kami selalu tidur, kamar yang dibuat manusia yang tidur, kami yang ditidurkan oleh manusia yang tidur
bangun tidur, tidur lagi
bangun lagi, tidur lagi
banguuuuun...tidur lagi*
di sini semua jadi diam, bahkan ketika banyak darah dan air mata menggenang, baju-baju, sepatu, penanggalan dan detak jam, semua diam, bahkan ketika banyak darah dan air mata menggenang, buku-buku hanya disesaki kata tanpa nyawa, bahasa tinggal gincu dan pewarna, tubuh-tubuh terdampar, hanya diam, bahkan ketika banyak darah dan air mata menggenang, tak ada kedatangan, tak ada kepergian, tak ada perubahan, ini kamar diam, kamar yang tertidur pulas, kamar yang menyimpan ingatan, kenangan, harapan, cinta dan sejarah yang dininabobokkan
bangun tidur, tidur lagi
bangun lagi, tidur lagi
banguuuuun...tidur lagi*
kamar ini tidur menjangkiti seluruh rumah, rumah jadi tidur merantak ke seluruh kampung, kampung jadi tidur menular ke seluruh kota, kota jadi tidur menggerogoti negara, negara jadi tidur menimang-nimang kami, kami jadi tidur, tidur jadi kami
*syair lagu Mbah Surip, Bangun Tidur
Puisi Indra Tjahyadi
SEPERTI KEMATIANKU
Seperti kematianku, derita yang lebih ledak ketimbang peluru
memicu mendung. Tombak takdir keperihan yang setajam
nujum mendentumkan lindu. Memang pernah ada burung bagi nafasku,
tapi harum rambutmu adalah dingin yang menumpahkan airmataku.
Bila segala keterasingan menjelma laut, aku hanyut dengan remuk ujud
sampai ke ujung hulu nyeri yang tak terkatakan taifun, seperti bayang-bayang
yang lamat-lamat memudar dirajam sunyi, dipalu rindu.
Biarkan aku mencintaimu meski semak-semak liar kian meneguhkan
kesedihanku, kian meneguhkan kesendirianku.
Terbuka. Terbukalah selalu segala luka segala hampa bagi mimpi dan sepiku,
meski di keremangan jalan menyudut para lelaki dan pelacur tengah sibuk
bercinta, meletuskan pistol dendam hantu-hantu dalam kalbuku.
O kekasih berkulit gelap dari dataran yang jauh, dengarkah olehmu
degup jantung yang senantiasa sengsara tiap kali bibirmu manis
sunggingkan senyum dan nafasmu bening sirapkan harum.
Dalam penderitaan bumi yang angkuh, aku tenggelam. Kian tenggelam!
Seperti denting gitar melayang di tengah malam. Seperti kematianku.
2007.
Puisi S Yoga
LUDRUK
ia rias wajahnya agar lebih cantik
ia menjadi sang putri malam ini
bukan sebagai lelaki yang biasa ia lakoni
yang datang dari rasa birahi
di panggung penonton masih sepi
ia ingat bedak terakhir yang tersimpan di laci
agar wajahnya tambah putih bunga leli
menyempurnakan penyamaran hari ini
atas riwayat hidup yang ingin dilupakan
dulu ia pernah menjadi tokoh yang gagal
kini ingin berganti peran dan nasib
agar semua rahasia bisa tersingkap
agar kenangan masa lalu bisa terkubur
dan bayangan sunyi sehabis subuh bisa berganti
ia mondar-mandir di tengah panggung
seperti hendak menanti eksekusi
ia berkidung agar semangat tidak luntur
sementara penabuh gamelan masih tertidur
tukang parkir sudah seminggu libur
ia ke tengah tobong menghitung kursi kosong
ia memandang panggung dan menyaksikan
permainan yang sesungguhnya sedang dimulai
ia lihat bayang-bayang dirinya di jendela kamar
bergincu tebal sambil melambaikan tangan
tanjung perak mas
kapale kobong
monggo mampir mas
kamare kosong
Surabaya, 2008
Puisi Beni Setia
para raja turun tahta
menyeberangi sabana
meninggalkan istana mencari mahagua
babat alas. menyibak
mimosa + alang-alang
agar sampai di pusat hening. jagat alit
seperti maharaja rahwana: menyusuri
celah payudara + selangkangan
lantas berkelajat dalam kawah vagina
berbusa. berbusa-busa ia bersabda:
"tak ada kekuasaan + kekayaan
yang bisa membeli sensasi tranced orgasme"
yang mahaputih merasuki uterus. mencari
Allah dalam gema mantra mula-jadi
- lalu surut dalam sedu-sedan ibadah zinah
rabi, kawini aku - kawini aku...
2009
Senin, 12 April 2010
Langganan:
Postingan (Atom)